SUMATERA – Para ilmuwan dan peneliti iklim memperingatkan bahwa banjir dan tanah longsor yang terjadi baru-baru ini di Asia Tenggara—terutama yang merenggut lebih dari 1.200 korban jiwa di Indonesia, Sri Lanka, dan Thailand—bukanlah fenomena kebetulan, melainkan “kenormalan baru” dan konsekuensi langsung dari krisis iklim.
Faktor Perubahan Iklim Global
Pemanasan yang Lebih Cepat: Asia disebutkan mengalami pemanasan hampir dua kali lebih cepat dari rata-rata global.
Udara dan Laut yang Lebih Basah: Peningkatan kadar karbon dioksida telah “mempercepat” iklim. Suhu lautan yang lebih hangat menyediakan energi yang lebih besar bagi badai. Ditambah lagi, udara yang lebih hangat menampung lebih banyak uap air (sekitar 7% lebih banyak per derajat Celsius), yang berarti badai membawa curah hujan yang luar biasa dan lebih merusak.
Siklus yang Berubah: Perubahan iklim memengaruhi arus udara dan lautan, termasuk sistem seperti El Niño, yang memperpanjang musim badai. Para ilmuwan sepakat bahwa intensitas dan ketidakpastian peristiwa cuaca ekstrem akan terus meningkat.
Faktor Manusia Lokal
Intensitas bencana diperparah oleh faktor manusia lokal, terutama di Indonesia:
Deforestasi: Di provinsi yang terdampak banjir di Indonesia (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat), banyak ditemukan kayu gelondongan yang hanyut. Para ahli menduga kuat bahwa penggundulan hutan (deforestasi) dan pengerukan lahan yang tidak diatur telah memperburuk kerusakan banjir karena tanah menjadi tidak stabil dan rentan longsor.
Pembangunan Tak Teratur: Pembangunan yang tidak diatur dan merusak ekosistem lokal juga memperburuk kerusakan.
Kurangnya Kesiapan: Para ahli menilai pemerintah di Asia Tenggara cenderung fokus pada respons terhadap bencana alih-alih pada persiapan dan pencegahan.
Para ahli menyimpulkan bahwa Asia Tenggara harus bersiap menghadapi kemungkinan berlanjut dan memburuknya cuaca ekstrem pada tahun-tahun mendatang.

