PARIS – Prancis telah meresmikan skema dinas militer sukarela sebagai upaya untuk memperkuat pertahanan nasional dan menambah jumlah personel militer di tengah meningkatnya retorika dan ancaman dari Rusia.
Langkah ini diambil menyusul pernyataan keras dari Jenderal tertinggi militer Prancis yang memperingatkan negara tersebut agar bersiap menghadapi potensi konflik dengan Rusia.
Rincian Program Sukarela
Program baru ini bertujuan untuk menarik dan melatih pemuda Prancis secara bertahap:
Target Awal: Prancis berencana merekrut 3.000 relawan mulai musim panas tahun depan (2026).
Peningkatan Bertahap: Target tersebut akan terus ditingkatkan hingga mencapai 10.000 orang muda dalam militer pada tahun 2030, dan puncaknya 50.000 orang pada tahun 2035.
Kekuatan Militer Saat Ini: Saat ini, Angkatan Bersenjata Prancis memiliki sekitar 200.000 personel aktif dan 47.000 cadangan. Jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi 210.000 personel aktif dan 80.000 personel cadangan pada tahun 2030.
Status Wajib Militer Tetap Sukarela
Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa dinas militer baru ini adalah sukarela dan memuji keputusan untuk menghentikan wajib militer (konskripsi) pada tahun 1996.
Namun, ia juga menambahkan klausul penting:
“Jika terjadi krisis besar, parlemen dapat mengizinkan pemanggilan individu selain sukarelawan,” ujar Macron. Dalam kasus luar biasa tersebut, dinas militer akan menjadi wajib.
Konteks Ancaman dari Rusia
Kebijakan ini tidak terlepas dari kekhawatiran yang mendalam terhadap niat geopolitik Rusia di Eropa:
Peringatan Jenderal: Kepala Staf Angkatan Bersenjata Prancis, Jenderal Fabien Mandon, memicu kegemparan di negara itu setelah memperingatkan bahwa Prancis harus siap “kehilangan anak-anaknya,” dan menyatakan bahwa Rusia sedang “bersiap untuk konfrontasi pada tahun 2030 dengan negara kita.”
Sikap Macron: Sebelumnya, Presiden Macron telah menekankan bahwa Paris tidak boleh menunjukkan kelemahan dalam menghadapi situasi geopolitik saat ini.

