GAZA/TEL AVIV – Kelompok militan Palestina, Hamas, dilaporkan menggunakan akun media sosial palsu untuk memata-matai dan mengumpulkan informasi intelijen tentang tentara Israel. Taktik ini menyoroti risiko keamanan yang dihadapi personel militer di era digital.
Modus Operandi Hamas
Menurut laporan intelijen Israel, Hamas membuat akun-akun palsu di berbagai platform media sosial, yang dirancang secara meyakinkan untuk menarik perhatian dan membangun interaksi dengan tentara Israel.
Pembuatan Profil Palsu: Akun-akun tersebut sering kali menggunakan foto profil wanita muda Israel yang menarik dan identitas palsu yang meyakinkan.
Targeting: Target utama adalah tentara Israel yang masih muda dan aktif di media sosial, terutama mereka yang memposting detail tentang unit, lokasi, atau kegiatan mereka.
Membangun Hubungan: Setelah friend request diterima, operator Hamas di balik akun palsu tersebut akan membangun hubungan dan percakapan. Mereka akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan spesifik yang bertujuan untuk menggali informasi sensitif, seperti jadwal tugas, pergerakan pasukan, dan jenis peralatan yang digunakan.
Penyebaran Malware (Diduga): Meskipun artikel ini tidak secara eksplisit menyebutkan malware, taktik serupa dalam serangan siber sering melibatkan pengiriman link berbahaya melalui pesan pribadi untuk meretas perangkat.
Dampak dan Respon Israel
Taktik ini berhasil mengumpulkan data intelijen yang berpotensi digunakan untuk serangan di masa depan, termasuk perencanaan penyergapan dan serangan roket yang lebih akurat.
Peringatan Militer: Militer Israel telah berulang kali mengeluarkan peringatan keras kepada personelnya mengenai bahaya interaksi dengan orang asing di media sosial.
Edukasi Keamanan Siber: Terdapat upaya berkelanjutan untuk mendidik tentara mengenai keamanan siber dan cara mengenali serta melaporkan akun-akun mencurigakan.

